Langsung ke konten utama

Yang tertulis

SERANGKAIAN KEBETULAN

Jajaran kereta masa lalu yang sudah berhenti ditepian rel berkarat yang mendominasi. Sebuah kebetulan yang masih berkembangbiak mencakup masa lalu yang tak kunjung henti. Takdir yang menyamar sebagai kebetulan membuat semua menjadi tersakiti. Kebetulan yang kata orang adalah bagian dari cerita seseorang. Membuat saya bimbang tak karuan. Jelas, bagaimana mungkin setiap pikiran yang terlintas dalam benak saya menjadi kenyataan. Kenyataan yang membuat saya bertanya-tanya apa maksud semua yang ada didepan.  Tak ingin berharap dan menaruh rasa ekspetasi yang terlalu tinggi, saya memilih untuk menjalaninya. Dan berkecamuk dalam ilusi imajinasi yang tak bisa di rubah aturannya. Katanya kebetulan sebenarnya penyamaran, tapi apa sebuah kebetulan namanya jika terjadi berulang. Contohnya seperti ini, tak sengaja pikiran saya memikirkan kalian yang sedang bertatap layar handphone dan tak lama, itu terjadi. Lalu sebulan kemudian, saya memikirkan yang berbeda dan itu terjadi lagi, pada orang yan...

BERTANYA YANG TERJAWAB (sudutpandang/bukan)


Ada seorang teman yang bertanya kepada saya,

'Kenapa sih kamu suka laki-laki yang hobinya nongkrong, ngerokok dan gak pernah ngurusin sekolah?. Taunya cuma main dan main.'

Pertanyaan yang bodoh, menurut saya.

Karena jika kita menyukai seseorang, itu bukan kita yang memilih. Tapi hati yang bekerja atas kendali semesta dan kapan dia ingin berlabuh pada hati yang memang ia tuju. Sebuah kata klise yang terucap, menanggapi pertanyaan yang seharusnya memang tidak usah di jawab.

Mungkin harus saya perjelas dengan sudut pandang saya, mengapa menyukai sosok laki-laki yang paling dibenci oleh pandangan masyarakat. Laki-laki yang selalu dianggap perusuh, tidak benar, dan dibilang menjadi beban keluarga. Setiap orang memiliki hak untuk menjalani hidup. akan jadi yang seperti apa. Seperti keinginan orang tua, keinginan masyarakat atau keinginan diri mereka sendiri. Saya tau, memang sulit memilih hidup dari setiap konsekuensi yang akan merambat ke semua jaringan di masa depan. Tapi ini lah hidup. Kadang kita selalu di salahkan akan apa yang telah kita capai dengan cara yang mereka tidak suka. 

Jadi begini, saya menyukai sosok seperti itu karena banyak alasan yang memang sulit di perbincangkan secara singkat. Dari sekian banyak laki-laki yang saya pernah kenal, sosok laki-laki yang memiliki sifat buruk, seperti apa yang kalian lihat itu adalah sebuah topeng. Mereka juga punya hati nurani, dan dari lingkungan saya, saya belajar. Bahwa anak yang dibilang tidak di didik itu, adalah anak yang sebenarnya sangat peduli akan keadaan sekitar. Peduli akan sesuatu yang mereka tidak tahu,tapi mereka melihatnya dengan mata yang mungkin belum pernah kalian lihat selama kalian mengenal sosok itu.

Tingkat kepekaan dan semangat saling menjaga satu sama lain itu sudah ada di dalam diri mereka. Anak tongkrongan dan suka merokok, mereka diajar untuk menyikapi dunia dan segala hal yang ada di dalamnya, yang begitu kejam melepaskan banyak panah yang akan menusuk tanpa aba-aba. Mereka diajar kuat, jika ada kondisi yang mendadak menjadi tidak kondusif. Mereka siap menyelematkan dan mempertaruhkan, demi sebuah kepedulian yang mereka genggam erat.

Saya mempunyai daya ketertarikan sendiri terhadap laki-laki yang seperti ini. Bukan berarti, saya tidak suka dengan sosok yang kutu buku. Saya hanya suka dengan apa yang saya suka. Kalau kalian memang tidak sependapat, biarkanlah. Setiap orang punya hak untuk menentukan kan?.

Tanyakan dulu hatimu, kamu itu lebih suka yang seperti apa. Semua di dunia ini adalah sebuah pilihan. Jadi, untuk apa kalian menanyakan sebuah pilihan seseorang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan hidup kalian. Nasihati, boleh. Tapi jangan pernah memaksa seseorang untuk memilih apa yang ingin kalian pilih. Belum tentu itu baik untuk dia. Diamkanlah, biar dia menjalani pilihannya dengan lapang dada dari setiap apa yang akan mereka dapatkan nanti karena memilihnya.

Dan ini pilihan saya, dimana saya setuju apa yang telah dikatakan oleh seseorang yang saya kagumi, Presiden pertama Indonesia. Ir. Soekarno, dimana dia mengatakan;

"Saya lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang memikirkan diri sendiri".

Komentar

Terbanyak dibaca